
Di tengah derasnya arus globalisasi yang seringkali menggerus budaya lokal, Yayasan Agro Sorgum Flores (Yasores) berupaya merawat kearifan leluhur melalui kegiatan identifikasi dan dokumentasi tradisi berladang masyarakat di Desa Riangpadu, Kecamatan Adonara Barat, Flores Timur, Kamis (30/11/2023).
Tim Riset dan Pengetahuan Yasores, Benedicto Reynalda Brian, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menjaga pengetahuan serta melestarikan budaya masyarakat lokal, khususnya generasi muda dan kaum perempuan.
Menurut Brian, pengetahuan tentang ritus adat dan budaya leluhur selama ini lebih banyak diwariskan lewat budaya tutur. Namun, cara tersebut kian terancam punah di tengah modernisasi.
Hal itu, kata dia, bisa memicu pergeseran bahkan hilangnya tata cara ritual adat, mulai dari proses pembukaan lahan, penyiapan benih, masa tanam, masa panen, hingga pascapanen.
Karena itu, sambung Brian, pendokumentasian dalam bentuk tulisan, foto, dan video menjadi langkah penting agar tradisi berladang tidak hilang ditelan zaman.
“Kami hanya fasilitasi saja. Kami mendorong anak-anak muda di sini yang akan kami dampingi untuk kemudian menggali atau mewawancarai orang tua tentang ritual adatnya. Pembahasan masih secara garis besar, selajutnya kami akan datang lagi untuk membuat video dan membantu meranarasikannya, kemudian dipublikasikan,” ujar Brian.
Sementara itu, Kepala Desa Riangpadu, Blasius Dua, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa sebagai pemimpin, dirinya selalu terbuka pada semua pihak yang ingin berkontribusi untuk kemajuan desa.
“Saya menerima program ini dengan baik. Saya merasa bersyukur dan berterima kasih karena sudah begitu lama yayasan tidak pernah masuk ke desa ini. Entah nanti seperti apa programnya, pasti akan berkelanjutan,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari tokoh pemuda Desa Riangpadu, Arnoldus Ola Ama. Ia menilai program ini memberi ruang pemberdayaan yang nyata bagi kaum muda dan perempuan.
Dia berharap kegiatan serupa terus berlanjut, karena membuka peluang terjadinya pembelajaran silang; kelompok muda dari Adonara bisa belajar ke Lembata, begitu pula sebaliknya.
“Tujuannya kan banyak, nanti dibuat dalam buku, juga teman-teman dari Lembata bisa mengetahui tradisi di Adonara khususnya di Desa Riangpadu dan Desa Pajinian, dan juga teman-teman dari Adonara bisa mengetahui tradisi dan kultur budaya di Lembata,” terang Arnol.
“Yang dilakukan Yayasan Agro Sorgum Flores ini kan sedang mempertahankan kultur budaya sehingga tugas saya di Desa Riangpadu, mengajak semua teman-teman muda supaya bisa mengetahui dan tetap menjaga budaya yang ada,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Riangpadu itu dihadiri Kepala Desa Blasius Dua bersama aparat desa, Koordinator Riset dan Pengetahuan Yasores Benedicto Reynalda Brian, Pendamping Lapangan Yulius Lamawato, serta Bendahara Program Eugrasia Bulazi. Turut serta pula tokoh adat, tokoh masyarakat, orang muda, dan kaum perempuan.
Selain Desa Riangpadu dan Desa Pajinian di Kabupaten Flores Timur, Yasores juga menjadikan dua desa di Kabupaten Lembata sebagai lokasi program, yaitu Desa Tapobali dan Desa Wuakerong.
Penulis: Tino Watowuan / Media & Publikasi




